Jakarta utara, 2 Oktober 2026 — Webinar bertema “From Preference to Practice: Sustainable Tourism Across Global and Local Contexts” diselenggarakan sebagai wadah untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai penerapan pariwisata berkelanjutan, baik dalam konteks global maupun lokal. Kegiatan ini menghadirkan pemaparan akademik mengenai preferensi wisatawan terhadap destinasi berkelanjutan serta praktik pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Yang berlokasi di Universitas Bunda mulia Ancol.
Kegiatan diawali dengan perkenalan dan penyampaian tata tertib webinar oleh moderator. Selanjutnya, peserta memperoleh pengantar mengenai Journal of Tourism and Economic sebelum acara secara resmi dibuka dengan memperkenalkan tema dan tujuan webinar.
Preferensi Wisatawan terhadap Pariwisata Berkelanjutan:
Sesi pertama menghadirkan Bapak Tutur Wicaksono, Ph.D., yang memaparkan materi mengenai apa yang diharapkan wisatawan dari destinasi berkelanjutan. Dalam pemaparannya, dibahas berbagai upaya pariwisata berkelanjutan dan preferensi wisatawan terhadap penerapannya.

Penelitian yang dipaparkan melibatkan 250 responden yang memberikan penilaian terhadap 14 praktik pariwisata berkelanjutan. Berbagai aspek kemudian dianalisis untuk mengetahui bagaimana wisatawan menilai upaya-upaya tersebut.
Hasil pemaparan menunjukkan bahwa perlindungan lingkungan, pariwisata ramah satwa, dan pengurangan sampah menjadi beberapa aspek yang mendapat perhatian penting dari wisatawan. Semakin baik upaya tersebut diterapkan oleh pengelola destinasi, semakin tinggi pula tingkat kepuasan wisatawan.
Selain itu, penyediaan makanan yang ramah lingkungan dan pelestarian budaya juga dapat memberikan nilai tambah bagi pengalaman wisatawan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Sementara itu, aspek perdagangan yang adil menunjukkan tingkat perhatian yang relatif berbeda dibandingkan aspek lingkungan dan satwa.
Berdasarkan temuan tersebut, pengelola destinasi memiliki beberapa langkah penting untuk diterapkan. Untuk menghindari kekecewaan wisatawan, destinasi perlu memberikan perhatian terhadap perlindungan lingkungan dan satwa serta pengelolaan sampah. Sementara itu, peningkatan peran dan keterlibatan masyarakat lokal dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kepuasan wisatawan.
Praktik Pariwisata Berkelanjutan dalam Konteks Lokal:
Sesi berikutnya menghadirkan Ibu Saskia Salsabila Rizkiyani, S.T.R.P.A.R., yang membahas profil dan potensi alam Desa Gunungsari serta penerapan pariwisata berkelanjutan dalam konteks lokal.

Pemaparan mengangkat permasalahan mengenai pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan yang belum berjalan secara seimbang. Dalam konteks tersebut, Desa Gunungsari menjadi salah satu contoh bagaimana pengembangan pariwisata dapat diarahkan menuju praktik yang lebih berkelanjutan.
Salah satu perubahan yang dibahas adalah transisi dari wisata alam menuju agrowisata, dengan melibatkan masyarakat, khususnya masyarakat tani, sebagai bagian dari pengembangan destinasi. Potensi tersebut juga didukung oleh praktik pertanian organik mandiri di Gunung Putri.
Namun, dalam penerapannya masih terdapat sejumlah tantangan. Tiga kendala utama yang diidentifikasi adalah pengelolaan sampah, kapasitas sumber daya manusia (SDM), dan administrasi.
Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, terdapat beberapa rekomendasi yang dapat diterapkan, yaitu memperkuat peran BUMDes, membangun kemitraan, mengemas aktivitas keseharian masyarakat menjadi bagian dari pengalaman wisata, serta memberikan pelatihan kepada seluruh warga. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan pariwisata tidak hanya bergantung pada pengelola destinasi, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.
Diskusi dan Tanya Jawab:

Setelah kedua sesi pemaparan selesai, webinar dilanjutkan dengan diskusi dan sesi tanya jawab. Peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan, tanggapan, serta mendiskusikan berbagai isu yang berkaitan dengan materi pariwisata berkelanjutan.
Bapak Tutur Wicaksono, Ph.D. dan Ibu Saskia Salsabila Rizkiyani, S.T.R.P.A.R. memberikan tanggapan terhadap berbagai pertanyaan yang diajukan peserta. Diskusi berlangsung secara interaktif dan memperluas pembahasan mengenai hubungan antara preferensi wisatawan, pengelolaan destinasi, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat lokal.
Melalui sesi diskusi tersebut, peserta memperoleh pemahaman bahwa konsep pariwisata berkelanjutan tidak berhenti pada preferensi wisatawan, tetapi perlu diwujudkan melalui praktik nyata yang dapat diterapkan di tingkat destinasi.
Penutup:
Webinar “From Preference to Practice: Sustainable Tourism Across Global and Local Contexts” memberikan perspektif mengenai pentingnya menghubungkan harapan wisatawan dengan praktik nyata dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Dari konteks global melalui kajian mengenai preferensi wisatawan hingga konteks lokal melalui pengembangan Desa Gunungsari, kegiatan ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara aspek ekonomi, lingkungan, budaya, dan keterlibatan masyarakat.
Kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada Bapak Tutur Wicaksono, Ph.D. dan Ibu Saskia Salsabila Rizkiyani, S.T.R.P.A.R. sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dan pemaparan yang diberikan dalam webinar.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan semakin memahami bahwa masa depan pariwisata berkelanjutan membutuhkan perubahan dari sekadar
“preference” (preferensi) menuju “practice” (praktik), sehingga prinsip keberlanjutan dapat benar-benar diterapkan dalam pengelolaan destinasi pariwisata di berbagai konteks.
