Rabu (13/05), UKM Talent (MCU) Universitas Bunda Mulia Serpong sukses menyelenggarakan Seminar Nasional Hybrid “Understanding Your Emotions” pada Rabu, 13 Mei 2026 bertempat di the UBM Master Kitchen, Lt. 10 UBM Tower pada pukul 18.10 – 20.10 dengan menghadirkan narasumber, yakni Abigail Theodora Tanzil, S. Psi., M. Psi., Psikolog. Acara ini dihadiri sebanyak 41 peserta onsite dan 164 peserta online.

Acara dibuka oleh Sean Farrell Mulyadi dan Griselda Arneta Karuna selaku MC utama, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Universitas Bunda Mulia. Kemudian, dilanjutkan dengan sesi games yang dipandu oleh Steven Claudius Widjaja dan Aurelia Xaviera Boenjamin selaku MC Games. Games ini diikuti oleh 5 orang dan para pemain antusias dalam permainan yang bernama “True or False”. Games ini dimainkan dalam 3 babak dan dimenangkan oleh Jessen, Ellen, dan Howard. Jessen meraih poin tertinggi, sementara Ellen dan Howard meraih poin seri. Tidak hanya peserta onsite, peserta online juga turut bermain games melalui situs web kahoot! yang berkonsep sama, yaitu “True or False”. Pemenang dari games tersebut, Erleen dan Chymberline diumumkan oleh MC utama di akhir acara.

Setelah rangkaian permainan dan tantangan yang dibawakan oleh Steven dan Aurelia, acara dilanjutkan oleh Farrell dan Griselda, dengan membacakan peraturan seminar bagi peserta onsite maupun online selama acara berlangsung. Tidak lupa juga memberikan ucapan terima kasih kepada seluruh media partner yang berkontribusi. Acara dilanjutkan dengan pemberian kata sambutan oleh Pak Natta Louistio, S.Ikom. selaku Perwakilan Badan Kemahasiswaan UBM dan Nathania Octavius selaku Ketua Acara.
Pada sesi pemaparan materi seminar, Ibu Thea membawakan materi mengenai pentingnya memahami dan mengelola emosi, khususnya dalam situasi public speaking dan tampil di depan umum. Dalam pemaparannya, peserta diajak memahami bahwa emosi merupakan respons psikologis dan fisiologis yang secara langsung memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan sesuatu, serta bertindak ketika menghadapi tekanan. Rasa gugup, takut melakukan kesalahan, hingga kehilangan fokus saat berbicara di depan audiens disebut sebagai bentuk emosi yang umum dialami oleh banyak orang.

Lebih lanjut, Ibu Thea menjelaskan bahwa emosi yang tidak dikelola dengan baik dapat memengaruhi performa seseorang, baik dari sisi pikiran, kondisi tubuh, maupun perilaku. Beberapa contoh yang dibahas antara lain munculnya pikiran negatif, jantung berdebar, suara gemetar, hingga kesulitan berkonsentrasi saat menyampaikan materi. Oleh karena itu, peserta diperkenalkan pada konsep regulasi emosi sebagai kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengendalikan respons emosional secara efektif agar tetap dapat tampil dengan percaya diri.
Selain penyampaian materi secara teoritis, beliau juga menghadirkan sesi interaktif melalui berbagai praktik sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Peserta diajak mempraktikkan teknik pernapasan untuk membantu menenangkan diri, membangun positive self-talk untuk mengurangi pikiran negatif, serta melakukan latihan body awareness dan simulasi public speaking singkat. Melalui sesi ini, peserta diharapkan mampu memahami bahwa public speaking bukan tentang tampil sempurna, melainkan tentang menyampaikan pesan dengan tenang, percaya diri, dan penuh kesadaran diri. Setelah sesi pemaparan materi selesai, MC utama membuka sesi tanya jawab (Q&A) dengan kuota sebanyak dua pertanyaan dari peserta onsite dan dua pertanyaan dari peserta online. Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi selama sesi berlangsung. Ibu Thea menjawab setiap pertanyaan dengan sangat baik dan informatif.
Sebagai penutup sesi tanya jawab, beliau merangkum materi dengan menekankan pentingnya mengubah self-talk negatif menjadi self-talk yang lebih positif dan suportif. Kalimat seperti “Aku pasti gagal” atau “Aku tidak mampu” sebaiknya diubah menjadi “Aku sedang belajar” atau “Aku sudah berusaha semaksimal mungkin.” Selain itu, peserta juga diingatkan agar tidak terlalu berfokus pada penilaian orang lain, melainkan lebih memprioritaskan proses pengembangan diri serta tujuan yang ingin dicapai. Pada akhir penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa melakukan kesalahan merupakan bagian yang wajar dalam proses belajar sehingga seseorang tidak perlu menuntut dirinya untuk selalu sempurna.

Setelah sesi tanya jawab selesai, sesi berikutnya merupakan pemberian ToA (Token of Appreciation). ToA diberikan oleh Pak Natta Louistio, S.Ikom. kepada narasumber, yakni Abigail Theodora Tanzil, S. Psi., M. Psi., Psikolog. Rangkaian seminar lalu ditutup oleh MC dengan sesi dokumentasi bersama peserta.
Dengan kemampuan mengelola emosi yang baik, diharapkan peserta mampu berkomunikasi secara lebih efektif, tampil lebih percaya diri, serta mengembangkan potensi diri secara optimal, baik di lingkungan akademik, organisasi, maupun kehidupan sosial sehari-hari.
Universitas Bunda Mulia
Bridging Education to The Real World
