Pada Senin, 9 Juni 2025, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia (UBM) Serpong mengadakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dalam bentuk trial class bertema “Makanan sebagai Bahasa Budaya” bersama siswa/i SMA Theresia. Kelas ini dipandu secara langsung oleh Anis Hamidati, Ph.D. yang merupakan salah satu dosen Ilmu Komunikasi UBM yang membuka sesi dengan penuh semangat dan sapaan hangat.
On Monday, June 9, 2025, the Communication Science Study Program of Bunda Mulia University (UBM) Serpong held a Community Service (PKM) activity in the form of a trial class themed “Food as a Cultural Language” with students of SMA Theresia. This class was guided directly by Anis Hamidati, Ph.D. who is one of the UBM Communication Science lecturers who opened the session with enthusiasm and a warm greeting.
Dalam sesi pemaparan materi yang berjudul “Makanan Sebagai Bahasa Budaya”, Miss Anis mengajak siswa/i untuk mengenal komunikasi antarbudaya melalui pendekatan yang menarik dan relate dengan kehidupan kita, yaitu makanan. Siswa/i diajak memahami bahwa makanan bukan hanya untuk sekadar dikonsumsi dan persoalan rasa, tetapi ada simbol budaya yang mencerminkan nilai, kepercayaan, dan identitas suatu kelompok masyarakat
In the presentation session entitled “Food as a Cultural Language”, Miss Anis invited students to learn about intercultural communication through an interesting approach that relates to our lives, namely food. Students were invited to understand that food is not just for consumption and a matter of taste, but there are cultural symbols that reflect the values, beliefs, and identity of a community group.

Dalam sesi ini, siswa/i diajak mengenali berbagai contoh makanan dari berbagai budaya seperti sushi dari Jepang yang merepresentasikan estetika dan ketelitian, rendang dari Sumatera Barat sebagai simbol gotong royong, makanan kosher yang berkaitan dengan ajaran agama Yahudi, serta pola makan vegetarian yang banyak dihubungkan dengan nilai spiritual dalam budaya india.
In this session, students are invited to recognize various examples of food from various cultures such as sushi from Japan which represents aesthetics and precision, rendang from West Sumatra as a symbol of mutual cooperation, kosher food which is related to Jewish religious teachings, and vegetarian diets which are closely associated with spiritual values in Indian culture.
Tidak hanya itu, Miss Anis turut membagikan pengalamannya selama berkuliah, saat harus berinteraksi dengan orang-orang dari budaya yang berbeda, termasuk pengalamannya tinggal bersama keluarga angkat dari latar belakang budaya lain. Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana komunikasi antarbudaya dapat menjadi tantangan tersendiri yang membutuhkan pemahaman, adaptasi, dan empati yang tinggi. Selain bereksplorasi simbol budaya melalui makanan, dalam trial class ini juga diperkenalkan teori-teori komunikasi yang berkaitan dengan komunikasi antarbudaya.
Not only that, Miss Anis also shared her experiences during college, when she had to interact with people from different cultures, including her experience living with a foster family from another cultural background. The experience showed how intercultural communication can be a challenge in itself that requires a high level of understanding, adaptation, and empathy. In addition to exploring cultural symbols through food, this trial class also introduced communication theories related to intercultural communication.

Sebagai penutup, siswa/i melakukan roleplay dalam kelompok yang berisi 4-5 orang, dan ada tujuh skenario komunikasi antarbudaya. Kegiatan ini bertujuan untuk siswa dapat menerapkan langsung pemahaman mereka tentang perbedaan nilai, kepercayaan, dan kebiasaan sosial yang ada di berbagai budaya. Roleplay ini juga meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal siswa serta kesadaran mereka akan pentingnya menghargai keberagaman budaya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pengalaman langsung ini, siswa diharapkan mampu membangun hubungan yang harmonis dan menghindari kesalahpahaman dalam interaksi lintas budaya.
In closing, students do roleplay in groups of 4-5 people, and there are seven intercultural communication scenarios. This activity aims for students to be able to directly apply their understanding of the differences in values, beliefs, and social customs that exist in various cultures. This roleplay also improves students’ interpersonal communication skills and their awareness of the importance of respecting cultural diversity in everyday life. With this direct experience, students are expected to be able to build harmonious relationships and avoid misunderstandings in cross-cultural interactions.
Universitas Bunda Mulia, “Bridging Education to the Real World”
