Jakarta, 29/05/2026 – Program Studi Bahasa Mandarin menyelenggarakan kegiatan Adjunct Professor bertema “Chinese Clothing and Accessories” secara daring melalui Tencent Meeting.
Kegiatan yang merupakan bagian dari mata kuliah Chinese Culture ini berlangsung pada pukul 07.30–09.10 WIB dan diikuti oleh mahasiswa semester 4 dari Kampus Ancol dan Kampus Serpong..
Makna Busana Tradisional Tiongkok
Seminar ini menghadirkan Prof. Gong Xian dari Fakultas Humaniora Jiangxi University of Finance and Economics sebagai narasumber. Kegiatan ini dipandu oleh Rahel Wiradi, S.Hum., MTCSOL sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Prof. Gong Xian menjelaskan bahwa busana tradisional Tiongkok bukan sekadar pakaian, melainkan cerminan peradaban dan nilai budaya masyarakatnya. Beliau memaparkan perkembangan busana sejak Dinasti Zhou, ketika pakaian berfungsi sebagai penanda status sosial yang ketat. Pada masa Dinasti Tang yang makmur dan terbuka, busana berkembang dengan menerima berbagai pengaruh asing melalui Jalur Sutra. Sebaliknya, Dinasti Song lebih menonjolkan kesederhanaan dan keanggunan yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Konfusianisme.
Perkembangan Busana Tradisional Tiongkok
Selanjutnya, Prof. Gong Xian juga menjelaskan bahwa pada masa Dinasti Yuan, busana yang praktis untuk berkuda menjadi populer di kalangan bangsawan Mongol, sementara masyarakat Han tetap mempertahankan tradisi berbusana mereka. Pada masa Dinasti Ming, terjadi upaya untuk menghidupkan kembali tradisi busana Han setelah berakhirnya pemerintahan Yuan. Adapun pada masa Dinasti Qing, kebijakan yang mewajibkan laki-laki Han mencukur bagian depan kepala dan mengenakan busana bergaya Manchu melahirkan fenomena yang dikenal sebagai “pria berpakaian Manchu, wanita berpakaian Han”.
Busana 56 Etnis di Tiongkok
Selain membahas perkembangan sejarah busana, Prof. Gong Xian juga memaparkan keragaman busana dari 56 kelompok etnis di Tiongkok. Menurut beliau, setiap kelompok etnis memiliki karakteristik busana yang unik dan mencerminkan identitas budayanya masing-masing. Namun, semakin berkurangnya penggunaan busana tradisional oleh generasi muda menjadi tantangan tersendiri bagi upaya pelestarian budaya. Di akhir pemaparannya, beliau menegaskan bahwa busana tradisional Tiongkok tidak akan hilang karena nilai budaya, memori sejarah, dan rasa bangga yang terkandung di dalamnya tetap hidup di tengah masyarakat.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan mengenai minat generasi muda terhadap Hanfu, karakteristik busana tradisional masyarakat Gansu, dampak perpaduan antara unsur tradisional dan mode modern terhadap pelestarian budaya, serta unsur-unsur tradisional yang perlu dipertahankan dalam perancangan busana etnis modern.
Kegiatan Adjunct Professor ini memperoleh respons positif dari para peserta. Melalui kegiatan ini, mahasiswa mendapatkan wawasan mengenai perkembangan busana tradisional Tiongkok dari berbagai periode sejarah serta memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Diharapkan kegiatan ini dapat mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menguasai bahasa Mandarin, tetapi juga memahami budaya yang melatarbelakanginya sehingga memiliki wawasan yang lebih luas tentang tradisi dan sejarah Tiongkok.
KAMPUS ANCOL
Jalan Lodan Raya No.2, Jakarta Utara 14430
No Telp: 021 690 9090
KAMPUS SERPONG
Jalan Jalur Sutera Barat Kav. 7-9, Alam Sutera, Tangerang, Banten 15143
No Telp: 021 8082 1428
Temukan juga kami di berbagai platform media sosial di bawah ini:
Instagram
Youtube
Tiktok
WhatsApp
Universitas Bunda Mulia, Bridging Education to the Real World! ✨
