JAKARTA, 27 November 2025 – Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) bekerjasama dengan Taipei Economic and Trade Office (TETO) di Indonesia sukses menyelenggarakan seminar internasional bertajuk “ASEAN Economic Community 2045: Challenges and Opportunities” di Hotel Ashley, Jakarta (26/11). Forum strategis ini menghadirkan pakar ekonomi, diplomat, serta raksasa teknologi global untuk membedah peta jalan ASEAN menuju kawasan yang tangguh, inovatif, dan berpusat pada masyarakat.
Acara dibuka dengan sambutan dari Dr. Trust Lin Hsin-jen, Wakil Kepala TETO Indonesia, yang menekankan tiga pilar utama kerjasama masa depan: transformasi digital, keberlanjutan (sustainability), dan keamanan energi.
Posisi Indonesia dan Tantangan Rantai Pasok Global
Sesi pertama menyoroti posisi ASEAN dalam Rantai Nilai Global (Global Value Chain – GVC). Kiki Verico, Ph.D., dalam paparannya memperingatkan bahwa posisi Indonesia dalam GVC masih cukup tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina.
“Masa depan ekonomi ASEAN sangat bergantung pada Indonesia. Jika Indonesia tertinggal, hal ini akan memberikan efek spillover negatif bagi total ekonomi ASEAN,” ungkapnya. Ia juga menyoroti pergeseran dari industri sunset (elektronik lama) menuju industri sunrise seperti semikonduktor yang menjadi generator pertumbuhan baru.
Senada dengan hal tersebut, Dr. Jayant Menon membahas dampak tarif global dan fenomena China Plus One. Menurutnya, eksportir kini menghadapi pilihan sulit di tengah ketidakpastian tarif: menyerap biaya, atau merekonfigurasi ulang rantai pasok. “Diversifikasi pasar dan relokasi produksi menjadi krusial untuk meminimalkan dampak perang dagang,” ujarnya.
Transformasi Digital: AI Sebagai Katalis Tenaga Kerja
Sebagai isu yang paling dinamis, sesi transformasi digital menghadirkan perwakilan dari Google dan Microsoft yang membahas peran Artificial Intelligence (AI).
Putri Alam, Director of Government Affairs & Public Policy Google Indonesia, menekankan pentingnya tata kelola data (Data Governance) dan etika AI. “Kita membutuhkan unified data border untuk meningkatkan kepercayaan data. Google sendiri telah menginvestasikan dana besar untuk memerangi penipuan (scams) demi keamanan ekosistem digital,” jelasnya.
Sementara itu, Widya Listyowulan dari Microsoft Indonesia menyoroti aspek sumber daya manusia. Microsoft berkomitmen untuk membekali 2,5 juta orang di seluruh ASEAN dengan keterampilan AI pada tahun 2025, di mana 1,2 juta di antaranya ditargetkan untuk Indonesia.
“AI bukan untuk menggantikan pekerjaan, melainkan menggantikan orang yang tidak menggunakan AI. Kunci menarik investasi di sektor ini adalah kesiapan pemerintah dalam mengadopsi cloud dan regulasi yang mendukung,” tegas Widya.
Jonathan Lin dari National Taiwan University menambahkan bahwa dunia kini sedang memasuki “siklus super” baru yang dipimpin oleh AI, yang diprediksi akan meningkatkan produktivitas secara signifikan dan memicu pertumbuhan kapitalisasi pasar teknologi publik.
Kerjasama Mitra Eksternal
Seminar ini juga membahas pentingnya stabilitas geopolitik bagi ekonomi. Wen-Ti Sung menyoroti interdependensi keamanan antara Taiwan, Filipina, dan Jepang dalam menjaga status quo yang stabil demi kelancaran rantai pasok semikonduktor.
Di sisi investasi riil, Peiti Patty memaparkan bahwa Taiwan terus memperkuat jejaknya di ASEAN, khususnya di Indonesia, dengan pergeseran manufaktur tekstil dan alas kaki ke wilayah seperti Bandung, serta menyerap ribuan tenaga kerja.
Seminar ditutup dengan kesimpulan bahwa untuk mencapai Visi ASEAN 2045, negara anggota harus mengatasi fragmentasi regulasi, memperkuat infrastruktur logistik, dan memastikan inklusivitas ekonomi digital agar teknologi dapat memberdayakan, bukan meminggirkan masyarakat.
TENTANG CSEAS
Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) adalah lembaga think-tank yang berfokus pada penelitian dan advokasi kebijakan terkait isu-isu strategis di kawasan Asia Tenggara, mempromosikan kerjasama regional dan pemahaman lintas budaya.

