TANGERANG, 11 Maret 2026 – Program Studi Akuntansi Universitas Bunda Mulia (UBM) sukses menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk “Auditing AI to Manage Cyber Risks” pada Rabu, 11 Maret 2026. Acara yang berlangsung pukul 13.00 – 15.00 WIB ini menghadirkan pakar industri untuk memberikan wawasan mendalam mengenai integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam praktik audit dan pengelolaan risiko siber. Kuliah Umum Audit ini dihadiri oleh mahasiswa/i Universitas Bunda Mulia Semester 4 yang saat ini sedang mengambil matakuliah Pemeriksaan Akuntansi 2 dan Akuntansi Forensik.
Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Ibu Veny, S.E., M.Ak., selaku Sekretaris Program Studi Akuntansi Universitas Bunda Mulia. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya bagi calon akuntan dan auditor untuk adaptif terhadap perkembangan teknologi guna menjaga integritas laporan keuangan di masa depan.
Kuliah umum ini menghadirkan Bapak Handikin Setiawan, S.E., Ak., CISA, seorang profesional di bidang Digital Payments & Technology Risk sekaligus anggota ISACA Indonesia Expert Committee, sebagai narasumber utama. Diskusi dipandu oleh Ibu Kurniawati, S.E., M.Ak., Dosen Akuntansi Universitas Bunda Mulia, yang bertindak sebagai moderator.
Selama sesi pemaparan, Bapak Handikin berinteraksi secara aktif dengan para mahasiswa/i, sehingga menciptakan suasana yang dinamis. Bapak Handikin menjelaskan terkait pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam bisnis dan sosial yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Namun demikian perkembangan AI yang sedemikian pesat, juga membuka pintu yang lebar bagi munculnya cyber risks, seperti data exposure, hidden vulnerabilities, bias in decisions, data exposure, reduced oversight, and poor governance. Untuk itu auditor dituntut untuk dapat memahami perkembangan AI serta cyber risks yang timbulkannya, sehingga dapat memitigasi cyber risks melalui evaluasi tata kelola AI yang ketat, perlindungan privasi data yang masif, serta pemantauan real-time dan ketahanan siber (cyber resilience) yang mumpuni. Pada akhirnya, Auditor masa depan dituntut untuk memiliki kombinasi keahlian yang komprehensif antara lalin pemahaman bisnis proses dan akuntansi yang kuat, integritas etika, dan penguasaan teknologi informasi. Sertifikasi seperti CISA (Certified Information Systems Auditor) kini menjadi sangat relevan karena menjembatani celah antara audit finansial tradisional dan kebutuhan audit teknologi modern. Sesi tanya jawab pun berlangsung inspiratif, di mana mahasiswa mengajukan kekhawatiran kritis mengenai automation bias. Menanggapi hal tersebut, Bapak Handikin menjelaskan bahwa auditor harus tetap memiliki skeptisisme profesional dan tidak boleh bergantung sepenuhnya pada output mesin. Beliau juga memberikan beberapa tips mengenai bagaimana mendeteksi backdoor melalui audit log yang ketat
Sebagai penutup, Ibu Veny, S.E., M.Ak. memberikan Token of Appreciation kepada Bapak Handikin Setiawan S.E., Ak., CISA selaku narasumber dan Ibu Kurniawati S.E., M.Ak selaku moderator sebagai bentuk penghargaan atas pengalaman dan ilmu yang dibagikan. Acara diakhiri dengan sesi foto bersama yang diikuti oleh seluruh peserta dengan penuh antusias.
Go Biemers!
Dokumentasi:

