


Jakarta, November 17, 2025 — Students of the Visual Communication Design (VCD) Program at Bunda Mulia University (UBM) held an art exhibition titled ACT ART: “Eyes See, Ears Listen, Art Speaks”, which took place on November 17–18, 2025, at The UBM Design Gallery, Ancol Campus.
The exhibition was organized as part of the Collaborative Design course and adopted the concept of art + activism (artivism). Through ACT ART, students explored the role of art as a medium for expressing ideas, social concerns, and critical reflections on contemporary social and political issues.
The ACT ART program began with a painting workshop and discussion session held at Kongsi 8, followed by a curated art exhibition featuring works produced during the workshop as well as selected submissions from participating artists. The exhibited works included illustrations, posters, and experimental visual pieces that represented diverse perspectives and voices from young creatives.
Visitors were not only invited to observe the artworks but also encouraged to actively engage through interactive elements, such as written responses using sticky notes. This participatory approach transformed the exhibition into an open dialogue between artists, artworks, and the audience, fostering reflection and discussion on the issues presented.
The exhibition received positive responses from visitors, including UBM students and members of the local art community. Over the two-day event, more than 170 visitors attended the exhibition, reflecting strong public interest in socially engaged art practices.
ACT ART was supervised by Tengku Ghasanny, S.Sn., M.Ds, and fully organized by students from the Collaborative Design class (5PDK2). Through this project, students not only developed their artistic and conceptual skills but also gained hands-on experience in exhibition management, collaboration, and the social role of art and design.
The ACT ART Exhibition aims to highlight that art is not merely an aesthetic expression, but also a powerful medium for communication, reflection, and social change.
========================================================================
Pameran ACT ART: “Mata Melihat, Telinga Mendengar, Seni Berbicara”
Jakarta, 17 November 2025 — Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Bunda Mulia (UBM) menyelenggarakan pameran seni bertajuk ACT ART: “Mata Melihat, Telinga Mendengar, Seni Berbicara”, yang berlangsung pada 17–18 November 2025 di The UBM Design Gallery, Kampus UBM Ancol.
Pameran ini merupakan bagian dari kegiatan akademik mata kuliah Collaborative Design, yang mengusung pendekatan art + activism (artivism). Melalui ACT ART, mahasiswa memanfaatkan seni sebagai medium untuk menyampaikan gagasan, kritik, serta refleksi terhadap isu-isu sosial dan politik secara visual, kritis, dan komunikatif.
Rangkaian kegiatan ACT ART diawali dengan workshop melukis dan diskusi yang diselenggarakan di Kongsi 8, kemudian dilanjutkan dengan pameran seni yang menampilkan karya-karya hasil workshop serta karya terkurasi dari peserta submisi. Karya yang dipamerkan mencakup berbagai medium visual, termasuk ilustrasi, poster, dan karya eksperimental yang merepresentasikan suara serta keresahan generasi muda.
Selama pameran berlangsung, pengunjung tidak hanya menikmati karya seni, tetapi juga diajak untuk berpartisipasi secara aktif melalui media interaktif berupa sticky notes guna menyampaikan opini dan tanggapan terhadap isu yang diangkat. Pendekatan ini menjadikan pameran ACT ART sebagai ruang dialog terbuka antara seniman, karya, dan audiens.

Kegiatan ini mendapatkan respons positif dari pengunjung yang berasal dari kalangan mahasiswa Universitas Bunda Mulia maupun komunitas seni lokal. Tercatat lebih dari 170 pengunjung hadir selama dua hari pelaksanaan, menunjukkan antusiasme terhadap praktik seni yang berpihak pada isu sosial dan partisipasi publik.
Pameran ACT ART dibimbing oleh Tengku Ghasanny, S.Sn., M.Ds, dan diselenggarakan sepenuhnya oleh mahasiswa DKV kelas Collaborative Design (5PDK2). Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mengasah kemampuan artistik, tetapi juga belajar mengelola pameran, berkolaborasi lintas peran, serta memahami peran desain dan seni dalam konteks sosial yang lebih luas.
ACT ART diharapkan dapat menjadi pemantik kesadaran bahwa seni bukan sekadar ekspresi estetika, melainkan juga sarana komunikasi, refleksi, dan perubahan sosial.
