

The Visual Communication Design Program of Universitas Bunda Mulia successfully held a Graphic Design Seminar titled “SAPA GRAFIS: Visual Interaction in Public Spaces” on Saturday, May 23, 2026, at Galeri Cipta 1, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. As part of the Totemfest: Sapa series, the seminar became a discussion platform on how design can foster social interaction, create collective experiences, and encourage co-creation within public spaces.
The seminar featured Adi Nugroho, Chairman of AIDIA, Reinhard Andersen, an alumnus of UBM Visual Communication Design and Creative Lead at Antikode, and Yana Erlyana, S.Sn., M.M., Head of the Visual Communication Design Program at Universitas Bunda Mulia. During the panel discussion, the speakers emphasized that design should no longer be seen merely as an aesthetic element, but as a collaborative process involving designers, audiences, communities, and the surrounding social environment.
Adi Nugroho highlighted that the design process should begin with the courage to question the design brief itself, allowing designers to produce outputs that go beyond technical requests and create broader and more meaningful impacts for society. Meanwhile, Yana Erlyana emphasized that design should create real impact and be capable of influencing public behavior through contextual and participatory visual approaches.
In addition to discussing design and co-creation, the seminar also provided practical insights for students preparing to enter the creative industry. Reinhard Andersen shared advice regarding portfolio preparation for internships and professional opportunities. He explained that the portfolio cover plays an important role because it creates the first impression for companies or clients. Supporting this statement, Yana Erlyana noted that a portfolio cannot communicate effectively to everyone in the same way, therefore its content and presentation should be adjusted according to the relevance of the intended audience or industry target.
Reinhard Andersen also reminded students about the importance of professionalism and respect in the workplace. He emphasized that in the creative industry everyone holds an equally important role, and students should never underestimate or disrespect anyone regardless of their position. The discussion reinforced the idea that success in the industry is determined not only by design skills, but also by ethics, communication, and the ability to build professional relationships.
Through SAPA GRAFIS, the Visual Communication Design Program at Universitas Bunda Mulia continues to demonstrate its commitment to organizing academic activities that are relevant to the development of the creative industry and contemporary design issues. The seminar is expected to strengthen design literacy, encourage collaborative design practices, and prepare students to enter the professional world with both creative competence and strong professional ethics.
===================================================================
SAPA GRAFIS UBM Bahas Co-Creation, Portofolio, dan Etika Profesional di Industri Kreatif
Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Bunda Mulia menyelenggarakan Seminar Desain Grafis bertajuk “SAPA GRAFIS: Interaksi Visual dalam Ruang Publik” pada Sabtu, 23 Mei 2026 di Galeri Cipta 1, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Totemfest: Sapa ini menghadirkan ruang diskusi mengenai bagaimana desain dapat membangun interaksi sosial, menciptakan pengalaman kolektif, serta melibatkan masyarakat dalam proses co-creation di ruang publik.
Seminar menghadirkan Adi Nugroho selaku Ketua Umum AIDIA, Reinhard Andersen sebagai alumni DKV Universitas Bunda Mulia sekaligus Creative Lead Antikode, serta Yana Erlyana, S.Sn., M.M., Ketua Program Studi DKV Universitas Bunda Mulia. Dalam diskusi panel, para narasumber membahas bagaimana desain saat ini tidak lagi hanya dipahami sebagai elemen estetika, tetapi sebagai proses kolaboratif yang melibatkan desainer, audiens, komunitas, hingga lingkungan sosial di sekitarnya.
Adi Nugroho menegaskan bahwa proses desain perlu dimulai dengan keberanian untuk mempertanyakan brief yang diterima agar hasil desain tidak berhenti pada permintaan teknis semata, tetapi mampu menghasilkan output yang lebih luas, relevan, dan berdampak bagi masyarakat. Sementara itu, Yana Erlyana menekankan bahwa desain harus mampu memberikan dampak nyata dan mengubah perilaku masyarakat melalui pendekatan visual yang kontekstual dan partisipatif.
Selain membahas desain dan co-creation, seminar ini juga memberikan wawasan praktis bagi mahasiswa yang akan memasuki dunia industri kreatif. Reinhard Andersen membagikan pesan kepada mahasiswa terkait pentingnya portofolio dalam proses magang maupun kerja profesional. Ia menekankan bahwa cover portofolio merupakan elemen penting karena menjadi kesan pertama yang dilihat oleh perusahaan atau klien. Menambahkan hal tersebut, Yana Erlyana menjelaskan bahwa portofolio tidak dapat berbicara kepada semua orang dengan cara yang sama, sehingga isi dan penyajiannya perlu disesuaikan dengan relevansi target atau pihak yang dituju.
Reinhard Andersen juga mengingatkan mahasiswa mengenai pentingnya sikap profesional ketika memasuki dunia kerja. Ia menyampaikan bahwa dalam industri kreatif setiap orang memiliki peran yang sama pentingnya, sehingga mahasiswa perlu menjaga sikap hormat kepada siapa pun dan tidak meremehkan posisi ataupun pekerjaan orang lain. Pesan tersebut menjadi penekanan bahwa keberhasilan di industri tidak hanya ditentukan oleh kemampuan desain, tetapi juga oleh etika, komunikasi, dan kemampuan membangun relasi profesional.
Melalui penyelenggaraan SAPA GRAFIS, Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Bunda Mulia terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan kegiatan akademik yang relevan dengan perkembangan industri kreatif dan isu desain kontemporer. Seminar ini diharapkan dapat memperkuat literasi desain, mendorong praktik desain yang lebih kolaboratif, serta mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi dunia profesional dengan kemampuan kreatif dan sikap kerja yang baik.
<yer>
