
Oleh Sylviana Hannyca Ho (Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia Kampus Serpong Angkatan 2024) — Universitas Bunda Mulia kembali menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) insidental bertajuk “Personal Branding Melalui Aktualisasi Potensi Diri” yang ditujukan bagi siswa/i SMA Tarakanita 2. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 9 Februari 2026, pukul 09.30–10.30 WIB, bertempat di Kampus Serpong Universitas Bunda Mulia. Program ini diprakarsai oleh dosen Ilmu Komunikasi, Kristin E.J. Nomleni, S.I.Kom., M.I.Kom., bersama mahasiswa pendamping sebagai bentuk kontribusi akademik dalam membekali generasi muda dengan pemahaman mengenai pentingnya personal branding sejak dini.
By Sylviana Hannyca Ho (Communication Studies Student, Universitas Bunda Mulia, Serpong Campus, Class of 2024) — Universitas Bunda Mulia once again organized an incidental Community Service (Abdimas) program titled “Personal Branding Through the Actualization of Personal Potential,” aimed at the students of Tarakanita 2 Senior High School. The activity was held on Monday, February 9, 2026, from 09:30 to 10:30 WIB, at the Serpong Campus of Universitas Bunda Mulia. This program was initiated by a Communication Studies lecturer, Kristin E.J. Nomleni, S.I.Kom., M.I.Kom., together with assisting students, as a form of academic contribution in equipping the younger generation with an understanding of the importance of personal branding from an early age.
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai respons terhadap perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin pesat dan kompetitif. Di era digital saat ini, individu tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan membangun citra diri yang positif dalam berbagai konteks, baik formal maupun informal. Personal branding menjadi salah satu kompetensi penting yang mendukung profesionalitas, kemampuan membangun relasi (networking), serta efektivitas komunikasi dalam kehidupan sosial maupun profesional.
This activity is organized in response to the increasingly rapid and competitive advancements in technology and the flow of information. In today’s digital era, individuals are expected to possess not only academic competence but also the ability to cultivate a positive self-image across various contexts, both formal and informal. Personal branding has become a crucial competency that supports professionalism, networking capabilities, and communication effectiveness in both social and professional spheres.
Secara konseptual, personal branding dipahami sebagai proses pembentukan persepsi masyarakat terhadap diri seseorang, di mana individu dipandang sebagai sebuah “merek” dengan karakteristik, nilai, serta kompetensi tertentu. Melalui personal branding yang tepat, seseorang tidak hanya dikenal, tetapi juga dipercaya. Dalam konteks pendidikan menengah, pemahaman mengenai personal branding menjadi relevan karena siswa berada pada fase penentuan arah pendidikan dan eksplorasi minat karier. Oleh karena itu, pengenalan personal branding melalui aktualisasi potensi diri diharapkan dapat membantu siswa mengenali kekuatan pribadi sekaligus mempersiapkan diri untuk jenjang pendidikan dan dunia profesional berikutnya.
Conceptually, personal branding is understood as the process of shaping public perception regarding an individual, wherein the person is viewed as a “brand” possessing specific characteristics, values, and competencies. Through effective personal branding, one becomes not only recognized but also trusted. In the context of secondary education, an understanding of personal branding is highly relevant as students are in a critical phase of determining their educational paths and exploring career interests. Therefore, introducing personal branding through the actualization of self-potential is expected to assist students in recognizing their personal strengths while simultaneously preparing them for higher education and the professional world.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi pembukaan dan pengenalan oleh mahasiswa pendamping pada pukul 09.30 WIB. Pada tahap ini, peserta diperkenalkan pada tujuan kegiatan serta gambaran umum mengenai pentingnya personal branding dalam kehidupan sehari-hari. Sesi pembuka ini bertujuan untuk membangun suasana yang komunikatif serta menumbuhkan ketertarikan peserta terhadap materi yang akan disampaikan.
The program began at 09:30 WIB with an opening session conducted by the student mentors. During this phase, participants were briefed on the event’s goals and given a broad overview of why personal branding matters in everyday life. The purpose of this session was to foster an interactive environment and spark the participants’ interest in the upcoming topics.
Memasuki sesi utama, dosen pelaksana menyampaikan materi melalui presentasi yang dikombinasikan dengan praktik sederhana dan games interaktif. Materi yang disampaikan mencakup pengertian personal branding, pentingnya grooming sebagai bagian dari personal image, strategi membangun kepercayaan, serta cara memperluas jaringan pertemanan dan relasi profesional. Peserta juga diberikan wawasan mengenai bagaimana memanfaatkan platform media sosial secara bijak untuk menciptakan jejak digital yang positif dan profesional.
During the main session, the faculty members presented the core topics using a mix of slide presentations, hands-on activities, and interactive games. The session covered the concept of personal branding, the role of grooming in shaping personal image, trust-building strategies, and techniques for professional networking. Additionally, participants gained insights into the wise use of social media to cultivate a positive and professional digital footprint.
Pendekatan pembelajaran yang digunakan bersifat edukatif, interaktif, dan partisipatif. Melalui kombinasi presentasi dan praktik, siswa tidak hanya menerima materi secara satu arah, tetapi juga terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Games yang diselipkan dalam sesi materi membantu peserta untuk lebih percaya diri dalam mengenali dan menyampaikan potensi diri mereka. Kegiatan ini mendorong siswa untuk memahami bahwa personal branding bukan sekadar tentang penampilan, melainkan tentang konsistensi sikap, komunikasi, serta nilai yang ditampilkan dalam interaksi sehari-hari.
The learning approach employed was educational, interactive, and participatory. Through a combination of presentations and practical exercises, students did not merely receive material in a passive, one-way manner but were actively involved in the learning process. The games incorporated into the sessions helped participants gain confidence in recognizing and expressing their personal potential. This activity encouraged students to understand that personal branding is not solely about appearance, but rather about the consistency of attitude, communication, and values demonstrated in daily interactions.
Setelah sesi presentasi dan praktik, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi secara langsung. Pada sesi ini, siswa menyampaikan pertanyaan terkait tantangan dalam membangun kepercayaan diri, cara mengelola media sosial, serta strategi mengenali potensi diri yang dapat dikembangkan menjadi nilai tambah. Diskusi berlangsung secara aktif dan menunjukkan antusiasme peserta dalam memahami relevansi personal branding terhadap masa depan mereka.
Following the presentation and practical sessions, the activity continued with a Q&A session, providing participants the opportunity to discuss directly with the speakers. During this session, students raised questions regarding challenges in building self-confidence, methods for managing social media, and strategies for identifying personal potential that can be developed into added value. The discussion was active and demonstrated the participants’ enthusiasm in understanding the relevance of personal branding to their future.
Kegiatan kemudian ditutup dengan rangkuman materi dan pesan motivasi agar siswa terus mengembangkan potensi diri secara konsisten. Penutup ini menekankan bahwa personal branding bukanlah proses instan, melainkan perjalanan berkelanjutan yang membutuhkan kesadaran diri, komitmen, dan integritas. Dengan pemahaman yang tepat, siswa diharapkan mampu membangun citra diri yang autentik serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan akademik maupun profesional.
The event concluded with a summary of the material and a motivational message encouraging students to consistently develop their potential. This closing segment emphasized that personal branding is not an instant process, but a continuous journey requiring self-awareness, commitment, and integrity. With the right understanding, students are expected to be capable of building an authentic self-image and preparing themselves to face both academic and professional challenges.
Pelaksanaan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Universitas Bunda Mulia dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang Pengabdian kepada Masyarakat. Melalui kolaborasi dengan SMA Tarakanita 2, universitas berupaya memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan kapasitas generasi muda, terutama dalam aspek komunikasi interpersonal, kepercayaan diri, dan kesiapan karier.
The execution of this activity is part of Universitas Bunda Mulia’s commitment to fulfilling the Tri Dharma Perguruan Tinggi (Three Pillars of Higher Education), specifically in the field of Community Service. Through this collaboration with SMA Tarakanita 2, the university strives to make a tangible contribution to the capacity building of the younger generation, particularly in the aspects of interpersonal communication, self-confidence, and career readiness.
Selain memberikan manfaat bagi peserta, kegiatan ini juga menjadi sarana implementasi keilmuan komunikasi yang dipelajari dalam mata kuliah seperti Komunikasi Interpersonal serta Lobi dan Negosiasi. Integrasi antara teori dan praktik dalam kegiatan Abdimas ini mencerminkan upaya universitas dalam menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan nyata di masyarakat.
In addition to benefiting the participants, this activity also serves as a means of implementing communication sciences studied in courses such as Interpersonal Communication and Lobbying & Negotiation. The integration of theory and practice in this Community Service activity reflects the university’s effort to bridge the world of education with real-world needs in society.

Secara keseluruhan, kegiatan “Personal Branding Melalui Aktualisasi Potensi Diri” diharapkan mampu memberikan pemahaman yang komprehensif kepada siswa mengenai pentingnya membangun citra diri yang positif melalui pengenalan dan pengembangan potensi pribadi. Dengan bekal tersebut, siswa diharapkan lebih percaya diri dalam menentukan langkah pendidikan selanjutnya serta mampu mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional dengan karakter yang kuat dan kompetitif.
Overall, the activity titled “Personal Branding Through the Actualization of Self-Potential” is expected to provide a comprehensive understanding to students regarding the importance of building a positive self-image through the recognition and development of personal potential. Equipped with this knowledge, students are expected to be more confident in determining their next educational steps and capable of preparing for the professional world with strong and competitive character.
“Bridging Education To The Real World”
Universitas Bunda Mulia
